WALAU sekarang ia sangat terkenal, bergelimang uang dan disukai di mana pun berada, jangan mengira, sudah seperti itulah Tukul sejak dulu. Pria kelahiran Semarang, 13 Oktober 1963 ini harus menjalani masa muda yang cukup sulit. Berangkat ke Jakarta dengan modal dengkul, ia harus hidup ditopang orang lain.
Selama berbulan-bulan ia harus menumpang di rumah kos sahabatnya sejak di Semarang, Toni Rastafara, seorang pemusik reggae. Bukan sekali dua kali dia dibayari makan oleh Toni yang memang sudah lebih dulu "mapan" di Jakarta.
Meski demikian, ia tak putus asa. Ia senantiasa berusaha mendapatkan pekerjaan sesuai bidang yang selama ini amat diinginkan, yakni menjadi pelawak terkenal.
Tetapi bukan menjadi pelawak yang kali pertama dilakoni. Berbagai jenis pekerjaan harus dijalani sebelum akhirnya berkenalan dengan dunia lawak. Ia pun menjadi pengantar koran, sopir pribadi, dan pembawa lampu untuk kamera syuting video manten. Akhirnya ia menjadi penyiar di radio SK. Dari sanalah perkenalannya dengan dunia panggung lawak Ibu Kota mulai terbuka. Tukul mulai melawak dari panggung ke panggung.
Sampai kemudian perlahan-lahan, ia mulai mampu memasuki dunia lawak melalui tayangan televisi. "Waktu itu saya diminta ikut jadi bintang tamu di Srimulat. Saya pikir gampang main di Srimulat, tinggal tunggu umpan, saya bisa masuk. Ternyata di Srimulat tidak begitu aturannya. Pelawak harus bisa cari jalan agar bisa masuk dalam lawakan. Kalau nggak bisa cari jalan ya nggak dapat jatah ngomong. Saya malah kemudian dipecat oleh Kadir, dengan alasan ada pergantian pemain baru. Padahal waktu itu istri saya lagi hamil. Mana sudah dekat lebaran lagi, waduh sedih banget hati saya," tutur Tukul yang kemudian mendapat tawaran main di "Ludruk Glamour" SCTV ini.
Sejak itulah ia mulai menemukan jalan untuk terus mendapatkan pekerjaan. Setelah Novita, putri semata wayang lahir, Tukul makin bersemangat saja mencari uang dengan melawak. Ia terima setiap tawaran yang mampir. Dari honor yang diterima, Tukul bisa menggelar pengajian selamatan untuk buah cintanya dengan Susiana. Begitu Novita lahir, ternyata karir Tukul semakin meningkat, rezeki pun otomatis terus mengalir ke kantongnya. Apalagi ia kemudian juga ditarik lagi ke Srimulat. Sejak itu ia tak lagi hidup pas-pasan.
Pria bernama asli Tukul Riyanto ini memang sejak kecil bercita-cita jadi pelawak. Ia pernah memiliki grup bernama Purbaria bersama temannya Joko Dewo. Berdua mereka kerap tampil di berbagai panggung lawak dari kampung ke kampung di Semarang.
Meski terkenal sebagai pelawak, namun hidup keluarga Tukul tidak lagi tergantung hanya dari lawakan. Ia kini juga memiliki sebuah event organizer, Ojo Lali Entertainment. Juga sejumlah rumah kontrakan di Cipete. Agar tertib administrasi, Tukul kini punya tiga rekening di bank. Satu untuk transfer pembayaran pekerjaan di televisi, satu untuk pekerjaan off air, dan satu lagi untuk pembayaran kontrak rumah.
Meski kini telah sukses, Tukul sadar, kesuksesan yang tak datang dengan sendirinya. Ia juga selalu ingat betapa sulit hidupnya ketika mulai meniti karier. Karena itu, sebisa mungkin ia memberi bantuan kepada orang lain yang sedang merintis karier.
Sejak 2001, di dekat rumah yang ia tempati ini, Tukul mempunyai sebuah rumah yang digunakan untuk menampung siapa pun yang sedang berusaha menjadi orang. Ada sekitar 12 orang yang tinggal di situ. Alhamdulillah, beberapa di antaranya ada yang sudah tampil di acara televisi dan menjadi bintang iklan dan sinetron.
Kepada mereka, Tukul memberikan tips-tips yang berguna dari pengalaman hidupnya. Mengajarkan kepada mereka cara memperkenalkan diri, mempertahankan kesuksesan, dan bergaul dengan orang. Walau sekarang sudah sukses, Tukul tetap tampil sederhana dan apa adanya. Ia mengaku ingin kembali menggalakkan hidup sederhana, mulai dari keluarga dan teman-teman.
Bahkan, meskipun mampu, Tukul mengaku tak berniat mengganti mobilnya dengan Mercy. Yang pasti Tukul masih punya obsesi, yakni membuat paket pelawak di televisi. "Saya kepingin punya paket pelawak di televisi. (Tresnawati-35)